Stop Cuek! Narkoba, Teror Yang Sebenarnya




Dari tahun ke tahun fakta kejahatan narkoba yang mencengangkan mata selalu menghiasi layar kaca dan mencuri perhatian para kuli tinta untuk menempatkannya dalam editorial maupun tajuk rencana. Tiga tahun silam, 22 Januari 2012, Afriyani Susanti menewaskan 12 pejalan kaki karena mengemudi dengan ugal-ugalan usai menenggak ekstasi. Tidak lama berselang, Novi Amelia yang mengemudi mobil di bawah pengaruh narkoba juga menabrak sejumlah pejalan kaki.
Kemudian di awal 2015, kasus kecelakaan maut kembali terjadi. Christopher Daniel Sjarif,pengemudi Mitsubishi Outlander menabrak sembilan kendaraan di Jalan Iskandar Muda, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Narkoba pun menjadi pemicunya. Berdasarkan tes laboratorium Badan Narkotika Nasional (BNN), pemuda yang sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat ini terbukti menggunakan narkoba jenis LSD (Lycergic Syntetic Diethylamide), sebelum kecelakaan maut yang menewaskan empat orang tersebut.

Tidak hanya mengakibatkan petaka bagi diri sendiri, narkoba juga memberikan dampak negatif bagi orang hanya lain yang tidak bersalah. Seorang pecandu narkoba dapat melakukan tindak kriminal seperti pencurian, perampokan bahkan pembunuhan serta kejahatan asusila seperti perkosaan akibat pengaruh narkoba. Narkoba telah menghancurkan kehidupan sang guru besar, para abdi negara, hakim yang mulia hingga musisi tenar. Tak ada kriteria sasaran, karena memang narkoba seolah ingin masuk ke segala lini pertahanan bangsa ini. Untuk itulah BNNmencetuskan Gerakan Stop cuek, stop apatis, stop pura-pura tuli akan masalah ini. Pandanglah keluarga sebagai benteng terkecil bangsa ini. Jika benteng pertama hancur, tentulah benteng-benteng selanjutnya akan tergempur hingga lebur.
Mari rekonstruksi kembali diri kita, sejauh mana kita sudah berbuat dan berupaya untuk membuat orang lain membuka mata bahwa narkoba ancaman bangsa yang sangat nyata, Stop Cuek ! Mulai dari sekarang. (Senli/BnnKota Palu)