Remaja Perokok Rentan Menyalahgunakan Narkoba




Foto: indonesiabebasrokok.org

Sejak beberapa tahun terakhir, di dalam setiap bungkus rokok umumnya disertai pesan kesehatan yang memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru atau serangan jantung (walaupun pada kenyataannya itu hanya tinggal hiasan, jarang sekali dipatuhi). Di dalam rokok terdapat banyak sekali bahan kimia yang sangat berbahaya jika masuk kedalam tubuh diantaranya ; Nikotin yang membuat perokok merasa rileks, Tar yang terdiri dari lebih dari 4000 bahan kimia yang mana 60 bahan kimia di antaranya bersifat karsinogenik, Cadmium sebuah logam yang sangat beracun dan radioaktif, Metanol (alcohol kayu) alkohol yang paling sederhana yang juga dikenal sebagai metal alcohol, Asetilena merupakan senyawa kimia tak jenuh, Arsenik bahan yang terdapat dalam racun tikus, Karbon monoksida bahan kimia beracun yang ditemukan dalam asap buangan mobil, Amonia dapat ditemukan di mana-mana, tetapi sangat beracun dalam kombinasi dengan unsur-unsur tertentu, Sianida senyawa kimia yang baru-baru ini sedang tren diberitakaan akibat dicampur dalam cairan kopi dan menyebabkan kematian,  Formal dehida cairan yang sangat beracun yang digunakan untuk mengawetkan mayat, Hidrogensianida  racun yang digunakan sebagai fumigant untuk membunuh semut. Zat ini juga digunakan sebagai zat pembuat plastic dan pestisida.
Menurut data terbaru Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Tahun 2014, 18,3 persen pelajar Indonesia sudah punya kebiasaan merokok, dengan 33,9  persen berjenis laki-laki dan 2,5 persen perempuan. GYTS 2014 dilakukan pada pelajar tingkat SLTP berusia 13-15 tahun.
Data perokok rata-rata masyarakat Indonesia (usia 15 tahun ke atas) adalah sekitar 30 persen, artinya dengan bertambahnya umur maka persentase perokoknya terus meningkat.
Rokok adalah pintu gerbang kepada narkoba lainnya. Remaja yang merokok lebih rentan penyalahgunaan berbagai jenis narkoba. Risiko kecanduan ganja lebih tinggi 7 kali lipat, kokain 14 kali lipat dan heroin 16 kali lipat. Untuk sekedar coba-coba, remaja di usia 12-15 tahun yang merokok 44 kali lebih rentan mengenal heroin dibandingkan yang tidak merokok. Pengaruh rokok di usia ini 2 kali lebih besar dibandingkan usia 50 tahun ke atas, dalam kaitannya dengan penyalahgunaan heroin.
“Otak masih berkembang hingga umur 25 tahun. Jika pada masa itu otak sudah mengenal nikotin, rokok akan jadi pintu gerbang untuk kecanduan senyawa lain khususnya alkohol dan obat terlarang,” ungkap Dr Stanton Glantz dari University of California seperti dikutip dari Medicalnewstoday, Kamis (30/6/2011).
Jika kita mengetahui bahayanya penyakit akibat merokok, pasti kita  menjauhi rokok, walaupun hanya sebatang saja. Dan yang ironisnya lagi bukan hanya penikmat rokok saja yang akan menerima dampaknya tetapi juga lingkungan serta masyarakat yang ikut menghirup asap rokok tersebut. Memang penyakit akibat rokok tidak langsung muncul gejala atau sakit dalam waktu singkat, tetapi perlu waktu secepat – cepatnya akan muncul setelah 5 tahun untuk menimbulkan efek kronis bagi penikmatnya.