NARKOBA DALAM CAIRAN ROKOK ELEKTRIK

Foto : gardencollage.com




Narkoba mirip multivitamin baru-baru ini ditemukan di salah satu gudang perusahaan kargo internasional di kompleks Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Petugas BNN menemukan multivitamin jenis Cannabidol (CBD) Oil.
Rokok elektrik yang sebagian besar produk impor memiliki cairan isi yang beragam untuk tiap pembuatnya. Oleh karena itu zat lain apa yang ada di dalam cairan tersebut juga tidak sama dan sampai saat ini belum ada standardisasinya. dikhawatirkan jika isi rokok elektrik tidak terstandarisasi, maka cairan di dalam rokok akan mudah tercampur sesuatu yang berbahaya.
Dari kasus yang pernah ditemukan, ada anak sekolah yang mengganti isi rokok elektriknya dengan salah satu jenis narkoba. Terkait hal ini, beberapa waktu lalu BNN menemukan narkoba jenis baru yang mirip multivitamin yang mengandung ekstrak cairan canabis. Efek yang ditimbulkan seperti ganja. Can CBD Oil merupakan produk legal di negara asalnya, Kanada.
Oleh sebab itu, BNN telah bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk melaksanakan pencegahan peredaran narkoba jenis baru termasuk dalam hal ini Can CBD Oil yang dicurigai dapat dicampur dalam cairan rokok elektrik. Dan BNN sangat mendukung keputusan BPOM yang “mengharamkan” rokok elektrik dan mendesak Kementerian Kesehatan (Kemkes) dan Kementerian Perdagangan (Kemdag) untuk melarang peredaran rokok elektrik supaya tidak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. 
Sebab, menurut Kepala BPOM Surabaya, Sudiyanto, dalam sebuah rokok elektrik mengandung  banyak toksin. Apalagi rokok tersebut proses pembakaraanya menggunakan energi listrik. sehingga uapnya akan masuk langsung ke paru-paru. Sebelumnya, Kepala BPOM Kustantinah di Jakarta menyatakan pihaknya tidak pernah memberikan izin kepada produsen rokok elektrik. Itu artinya, rokok elektrik yang beredar di wilayah Indonesia adalah rokok elektrik ilegal yang tidak memiliki sertifikat layak untuk digunakan oleh manusia.
Berkaca dari peredaran rokok elektrik yang ditemukan di China tahun 2003 lalu, sudah dilarang oleh beberapa negara, termasuk pemerintah China sendiri. Selain itu, negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Brazil juga ikut menyadari bahaya kesehatan dan keselamatan bagi konsumen rokok elektrik sehingga melarang peredarannya. Lalu, apakah di Indonesia akan terus bebas beredar? (Humas BNNK Palu)