DAERAH MISKIN RAWAN JARINGAN NARKOBA





Laporan PBB menunjukkan Indonesia termasuk dalam 10 Negara dengan jumlah populasi terpadat di dunia, jumlah penduduk yang besar ini tentu bukan perkara mudah untuk disejahterakan secara merata. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Indonesia, Angkatan kerja Indonesia pada Februari 2015 sebanyak 128,3 juta orang  dari jumlah 237 juta jiwa penduduk. Data ini menunjukkan besarnya jumlah penduduk Indonesia yang masih menganggur dengan berbagai latar belakang pendidikan dan usia.
Masalah sosial ini menjadi peluang besar para Bandar untuk dijadikan lahan bisnis narkoba. Mirisnya, daerah miskin merupakan wilayah dengan tingkat pengangguran paling tinggi di Indonesia. Hal ini membaut daerah miskin semakin terpuruk dengan rawannya peredaran narkoba yang berbanding lurus dengan peningkatan jumlah tindak kriminal.
Jumlah pengguna narkoba di berbagai daerah pada 2015 tercatat mencapai 5,8 juta orang dan Indonesia juga merupakan pasar terbesar narkoba di ASEAN. Apabila mereka tidak terselamatkan, kecanduan narkoba akan berdampak pada kematian yang mengerikan dan tak terbayangkan, sehingga akan terjadi tragedi kemanusiaan yang tidak terkirakan.
Kenyataannya peredaran narkoba memang banyak menyasar daerah-daerah yang miskin, karena pada awalnya narkoba diberikan secara cuma-cuma. Para penggunanya kemudian dijadikan rantai jaringan. KH Hasyim maupun Komjen Budi Waseso Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) KH A Hasyim Muzadi dan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso pun sepakat mengenai perlunya upaya untuk mengembangkan Gerakan Nasional anti Narkoba secara masif dan efektif. Masalah narkoba tidak cukup ditangani oleh BNN, tetapi harus ditanggulangi dengan gerakan rakyat semesta.